PENDAHULUAN

Bidang linguistik atau tata bahasa yang mempelajari kata dan proses pembentukan kata secara gramatikal disebut dengan morfologi. Morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan atau arti kata. Atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik mapun fungsi semantik.
Posisi morfologi sesungguhnya berada di antara fonologi dan sintaksis. Posisi ini mau tidak mau menjadikan morfologi memiliki keterkaitan dengan keduanya. Keterkaitan dengan morfologi terbukti dengan adanya kajian morfonologi, yakni ilmu yang mengkaji terjadinya perubahan fonem yang disebabkan oleh proses morfologi. Sedangkan keterkaitan dengan sintaksis terlihat dengan adanya kajian morfosintaksis. Keterkaitan ini terjadi antara lain, karena kata merupakan satuan terkecil dalam sintaksis, sebab kata merupakan input dalam proses sintaksis sekaligus menjadi output terakhir dalam proses morfologis.

PEMBAHASAN

A. Definisi Morfologi
Morfologi secara etimologis, berasal dari kata morf (bentuk) dan logi (ilmu). Morfologi secara terminologi adalah cabang ilmu bahasa yang mengkaji aspek kebahasaan yang berupa kata dan bagian-bagiannya.

B. Objek kajian morfologi
Sebagaimana menurut Chaer, adalah satuan-satuan morfologi, proses-proses morfologis, dan alat-alat dalam proses morfologi itu. Satuan morfologi adalah morfem (akar atau afiks) dan kata. Proses morfologi adalah proses pembentukan kata yang menunjukkan bagaimana kata-kata baru dibentuk. Proses morfologi melibatkan dasar (bentuk dasar), alat pembentuk (afiks, duplikasi, komposisi, akronimisasi, konversi), dan makna gramatikal. Dalam banyak kasus, kata-kata baru terbentuk dari kata-kata yang sudah ada melalui beberapa modifikasi.

C. Fungsi Morfologi
1) Sebagai cabang dari ilmu linguistik bahasa yang mengkaji proses pembentukan kata yang menunjukkan bagaimana kata-kata baru dibentuk.

2) Mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan bentuk kata terhadap fungsi dan arti kata.

3) Sebagai cabang dari ilmu linguistik bahasa yang mengkaji proses pengolahan leksem menjadi kata

D. Morfem, Morf, dan Alomorf
Morfologi juga dijelaskan sebagai bidang linguistik yang mempelajari morfem dan kombinasinya. Satuan kebahasaan dalam tataran morfologi berupa bentuk-bentuk kebahasaan terkecil yang lazim disebut morf dan abstraksinya disebut morfem. Konsep morf dan morfem mirip dengan konsep fon dan fonem. Bedanya fon dan fonem dalam lingkup bunyi sedangkan morf dan morfem dalam lingkup bentuk. Adapun kemiripannya, morf merupakan satuan bentuk terkecil yang bersifat konkrit. Sedangkan morfem merupakan abstraksi dari morf.
Konsep morf dan morfem dapat dijelaskan melalui satuan-satuan berikut ini.
-mencangkul -memukul -melapor
-menggarap -menyuruh
Pada satuan-satuan tersebut, tampak bentuk-bentuk yang berbeda di awal verba, yaitu bentuk /men-/, /mem-/, /me-/, /meng-/, dan /meny-/. Bentuk-bentuk tersebut merupakan bentuk yang konkrit dan mempunyai satu makna, yaitu ‘melakukan sesuatu’. Bentuk-bentuk yang demikian itulah yang disebut morf. Kelima bentuk tadi pada dasrnya merupakan perwujudan dari morfem {meN-} (dibaca: me- nasal: N besar melambangkan Nasal). Dengan kata lain, kelima morf tersebut diabstrasikan dalam morfem {meN-}. Bentuk-bentuk realisasi yang berainan dari morfem yang sama itu disebut alomorf. Alomorf adalah perwujudan konkret (di dalam pertuturan) dari sebuah morfem. Jadi, setiap morfem tentu mempunyai alomorf.

E. Identifikasi morfem
Untuk menentukan sebuah bentuk adalah morfem atau bukan, kita harus membandingkan bentuk tersebut di dalam kehadirannnya dengan bentuk-bentuk lain. Jika bentuk tesebut bisa hadir secara berulang-ulang dengan bentuk lain, maka bentuk tersebut adalah sebuah morfem. Contoh:
– kedua -kedelapan -kesepuluh
-ketiga -kesembilan -kesebelas
Bentuk ke pada daftar di atas dapat disegmentasikan sebagai satuan tersendiri dan yang mempunyai makna sama, yaitu menyatakan tingkat atau derajat. Dengan demikian bentuk ke di atas, karena merupakan bentuk terkecil yang berulang-ulang dan mempunyai makna yang sama, bisa disebut sebagai sebuah morfem. Perhatikan bentuk ke pada daftar berikut:
-ke pasar -ke dapur
-ke kampus -ke masjid
Bentuk ke pada daftar di atas dapat disegmentasikan sebagai satuan tersendiri dan juga mempunyai arti yang sama, yaitu menyatakan arah atau tujuan. Dengan demikian ke pada daftar tersebut adalah sebuah morfem.
Bentuk ke pada kedua dan ke pasar tidak sama, maka kedua ke itu bukanlah morfem yang sama. Keduanya merupakan dua buah morfem yang berbeda, meskipun bnetuknya sama. Jadi, kesamaan arti dan kesamaan bentuk merupakan ciri atau identitas sebuah morfem.
Identifikasi morfem dapat dilihat dari bentuk meninggalkan dengan membandingkan bentuk-bentuk lain yang ada dalam daftar berikut:
-meninggalkan -ditinggalkan -tertinggal
-peninggalan -ketinggalan -sepeninggal
Dari dafatar tersebut ada bentuk yang sama, yang dapat disegmentasikan dari bagian unsur-unsur lainnya, bagian yang sama itu adalah bentuk tinggal. Maka, bentuk tinggal adalah sebuah morfem, karena bentuknya sama dan maknanya juga.
Untuk dapat menetukan sebuah bentuk adalah morfem atau bukan, harus mengetahui atau megenal makananya. Perhatikan contoh berikut:
-menelantarkan -terlantar -lantaran
Meskipun bentuk lantar terdapat berulang-ulang pada daftar tersebut, tetapi bentuk lantar bukanlah sebuah morfem karena tidak ada maknanya. Bentuk menelantarkan memiliki hubungan dengan terlantar, tetapi tidak memiliki hubungan dengan lantaran.
Kridalaksana mengemukakan bahwa morfologi adalah subsistem linguistik yang mengkaji proses yang mengolah leksem menjadi kata. leksem merupakan input sedangkan kata merupakan output. Hal ini dapat digambarkan berikut ini:
Leksem – proses morfologi – kata
Leksem merupakan satuan dasar dalam leksikon dan dibedakan dari kata sebagai satuan gramatikal. Ada beberapa karakteristik yang memperjelas konsep leksem, yaitu:
a. Leksem adalah satuan terkecil dalam leksikon
b. Leksem adalah satuan yang berperan sebagai input dalam proses morfologis
c. Leksem merupakan bahan baku dalam proses morfologis
d. Leksem merupakan unsur yang diketahui keberadaannya dari bentuk yang setelah disegmentasikan dari bentuk kompleks merupakan bentuk dasar yang lepas dari morfem afiks.
e. Leksem merupakan bentuk yang tidak tergolong proleksem atau partikel.

F. Proses Morfemis
Proses morfologis dapat dikatakan sebagai proses pembentukan kata dengan menghubungkan morfem yang satu dengan morfem yang lain yang merupakan bentuk dasar. Dalam proses morfologis ini terdapat tiga proses yaitu: pengafiksan, pengulangan atau reduplikasi, dan pemajemukan atau penggabungan.
1. Pengafiksan
Bentuk (atau morfem) terikat yang dipakai untuk menurunkan kata disebut afiks atau imbuhan. Pengertian lain proses pembubuhan imbuhan pada suatu satuan, baik satuan itu berupa bentuk tunggal maupun bentuk kompleks, untuk membentuk kata. Contoh:
1. Berbaju
2. Menemukan
3. Ditemukan
4. Jawaban.
Bila dilihat pada contoh, berdasarkan letak morfem terikat dengan morfem bebas pembubuhan dapat dibagi menjadi empat, yaitu pembubuhan depan (prefiks), pembubuhan tengah (infiks), pembubuhan akhir (sufiks), dan pembubuhan terbelah (konfiks).
2. Reduplikasi
Reduplikasi adalah pengulangan satuan gramatikal, baik seluruhnya maupun sebagian, baik disertai variasi fonem maupun tidak.
Contoh: berbulan-bulan, satu-satu, seseorang, compang-camping, sayur-mayur.
3. Penggabungan atau Pemajemukan
Proses pembentukan kata dari dua morfem bermakna leksikal . Contoh:
1. Sapu tangan
2. Rumah sakit
G. Perbedaan Ilmu Sharaf dengan Morfologi
Morfologi adalah ilmu yang membicarakan tentang struktural internal kata yang dalam bahasa arab disebut kalimah. Dalam kajian linguistik arab, morfologi satu paralel dengan sharaf.
Hasanain menjelaskan bahwa morf dan morfem dalam bahasa arab sepadan dengan ash-sighat dan al-wazn. Makna yang terkandung atau yang ditunjukkan al-wazn itulah morfem, sedangkan sighat yang mengikuti al-wazn itulah morf. Dicontohkan kataكاتَبَ merupakan morf dengan morfem فاعَلَ yang bermakna al-musyarakah.
Dalam bahasa arab terdapat alomorf (beberapa morf) yang merupakan realisasi dari satu morfem tertentu. Sebagai contoh dikemukakan, morfem al-muthawa’ah dapat direalisasikan dengan اتــ pada اِنكسر , ا-تـ pada اعتدل, dan ت-ً pada تكسًر.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat dikatakan bahwa kata merupakan salah satu aspek terpenting dalam morfologi. Selain sebagai output, dalam proses morfologi, kata merupakan satuan terbesar. disebut sebagai satuan terbesar dalam proses morfologis karena kata merupakan produk dari proses morfologi tersebut.
Kata merupakan satuan gramatikal terkecil yang dapat berdiri sendiri. Menurut kridalaksana, kata adalah satuan bahsa yang dapat berdiri sendiri atau kata adalah satuan terkecil yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas. Kata bisa terbentuk dari satu morfem bebas, misalnya rumah. Kata juga bisa terbentuk dari gabungan morfem bebas dan morfem terikat, misalnya kata مسلمون terbentuk dari morfem bebas {مسلم} dan morfem terikat {ـون}.
Selain itu, kata juga merupakan titik temu antara subsisitemvmorfologi dan subsistem sintaksis, dalam arti bahwa selain sebagai satuan terbesar dalam morfologi, kata sekaligus merupakan satuan terkecil dalm sintaksis.

PENUTUP
Morfologi adalah cabang ilmu bahasa yang mengkaji aspek kebahasaan yang berupa kata dan bagian-bagiannya. Dengan kata lain, morfologi membahas pembentukan kata. morfologi juga dijelaskan sebagai bidang linguistik yang mempelajari morfem dan kombinasinya. Morfologi merupakan tataran di atas fonologi, karena objek kajian morfologi, yaitu kata dan bagian-bagiannya di atas tataran bunyi sebagai objek kajian fonologi (fonetik dan fonemik). Morfologi juga dijelaskan sebagai bidang linguistic yang mempelajari morfem dan kombinasinya.
Satuan kebahasaan dalam tataran morfologi berupa bentuk-bentuk kebahasaan terkecil yang lazim disebut morf dan abstraksinya disebut morfem. Konsep morf dan morfem mirip dengan konsep fon dan fonem. Bedanya fon dan fonem dalam lingkup bunyi sedangkan morf dan morfem dalam lingkup bentuk. Adapun kemiripannya, morf merupakan satuan bentuk terkecil yang bersifat konkrit. Sedangkan morfem merupakan abstraksi dari morf.

Daftar Pustaka

Alwi, Hasan, dkk.. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2000
Asrori, imam, Sintaksis Bahasa Arab, Malang: Misykat,2004
Chaer, Abdul, Linguistik Umum, Jakarta: Penerbit Rineka Cipta, 2007
Chaer, Abdul, Morfologi Bahasa Indoneisa (Pendekatan Proses). Jakarta: Penerbit Rineka Cipta., 2008
Kridalaksana, Harimurti, Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama, 2007
Mu’minin, Iman Saiful, Kamus Ilmu Nahwu dan Sharaf, Jakarta: Amzah, 2008