Salwa Salsabila binti Muhibbun, sebuah nama yang sangat aku kenal, tertulis dikertas kuning yang menancap bak bendera di pinggir sungai. Aku dan mas Fadli pun berlari menuju rumah Nenek setelah membaca pengumuman singkat itu. Adikku yang belum sempat membaca pengumuman itu, ikut berlari bersama kami. Kemana air mataku? Kemana kesedihanku? Ataukah aku harus berpura-pura menangis? Tangisku pun pecah saat aku melihat keranda besi yang terletak didepan rumah tetangga Nenek. Benarkah ini? Semua orang berkerumun didepan rumah Nenek.
Laki-laki paruh baya itu Bapakku, duduk disamping jenazah Ibu sambil memangku adikku yang sedang menangis kejer. Jeritan tangis keras mas Fadli didengar semua orang yang hadir untuk ta’ziyah Ibu, Diapun tidak percaya atas kejadian ini. Aku menangis sedalam-dalamnya disebalah kanan jenazah Ibu, aku sesak, aku pusing, aku berusaha tuk terus mengeluarkan air mata. Begitu keraskah hatiku, tanyaku dalam hati.
Suara lantunan ayat suci terdengar di dalam ruangan ini, begitu indah dan menyayat hati bagi setiap orang yang mendengarnya. Buleklah yang memiliki suara indah itu, pikirku. Kucari dia didalam ruangan ini, kusalami dia, kucium dia. Teruskanlah Bulek, kataku padanya. Kemudian, aku menyalami semua orang yang ada di dalam ruangan ini terutama Bapak.
Mataku berhenti memandang semua orang yang ada di ruangan ini, saat ku melihat mas Muhammad yang sedang membaca ayat suci al-quran, dia kakak kelimaku. Dialah yang beberapa hari ini menemani Ibu dan Bapak dirumah, ketika kakak keduaku pergi dari rumah diusir oleh Ibu.
Aku tidak melihat kakak, panggilan akrab kami kepada kak Ita, dia adalah kakak keduaku, anak pertama Ibu dan anak kedua dari Bapak. Sebelum menikah dengan Ibu, Bapak pernah menikah dan memiliki anak satu dan cerai. Kemudian Bapak menikahi Ibu dengan membawa anak pertama bapak, yakni mas Hari.
Aku bertanya pada adik Ibu tentang keberadaan kakak, dia menjawab belum ada yang tahu dimana ia sekarang, semua saudara telah mencarinya tapi nihil, tidak ada yang dapat menemukannya. Setelah menanyakannya akupun pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Dari dalam kamar mandi, tiba-tiba aku mendengar tangis pecah kakakku, dia telah datang, pikirku.
Tempat pemandian jenazah telah siap, jenazah Ibu pun dimandikan. Ibu haji Yuni yang memimpin pengurusan seluruh rangkaian pemandian dan pengafanan. Beliau adalah orang yang paling mengetahui ilmu agama di desa ini. Setiap acara majlis ta’lim, Ibu haji yunilah yang menjadi penceramahnya. Semua orang di desa ini, sangat menghormati beliau. Nenek, kakak, aku, dan Ibu haji Yuni yang memandikan jenazah ibu, karena kamilah yang berhak. Saat rangkaian pemandian terakhir, datanglah kakak keempatku yakni, mba Vivi dari Yogya. Kulihat matanya, bengkak. Pasti dia telah mengetahui kabar meninggal Ibu dari semalam, pikirku.
Jenazah ibu sebentar lagi selesai dimandikan, aku menghampiri adikku yang sedang menyaksikan jenazah ibu dimandikan. Dia sudah berhenti menangis, kasihan adikku yang masih berumur Sembilan tahun, saat dimana anak yang umur sebayanya masih sangat membutuhkan kasih sayang seorang Ibu. Setelah jenazah ibu diwudhukan, dilanjutkan dengan pembilasan terakhir, Bapak dipapah kedua masku menuju tempat pemandian jenazah. Beliaulah yang pertama membilas jenazah Ibu dengan air mawar yang dicampur kapur barus, kemudian diteruskan oleh Nenek, kakak, mas-mas ku, mbak ku, aku, dan adikku yang terkhir.
Kain kafan putih yang suci itu membalut tubuh elok jenazah Ibu, salah satu sepupuku sempat mengambil gambar wajah cantik terakhir Ibu sebelum wajah Ibu dibalut juga oleh kain-kain itu.
Aku setelah Bapak yang mencium kening dan pipi jenazah Ibu sambil mengucap doa dan berkata maaf padanya. Aku yakin, Ibu di alam yang berbeda sedang melihat kami semua menciumi wajahnya yang terakhir. Senyum mengembang dibibirnya membuat kagum semua orang diruangan ini, terlihat cantik sekali.
Jenazah Ibu telah selesai disalati dan akan dikebumikan di TPU cijantung, tempatnya tidak jauh dari rumah Nenek. Setelah semua rangkaian pemakaman selesai, aku teringat kata-kata terakhir Ibu kepada ku. Dua minggu yang lalu sebelum Ibu jatuh sakit lagi, aku menelefonnya. Ibu bilang, beliau tidak mau melihat kakak keduaku selama-lamanya. Akupun menangis dan menjerit sekeras-kerasnya dalam hati.
Sehari sebelum meninggal, di pagi hari Ibu tetap bekerja di warung seperti biasa. Ditemani Bapak, mas Muhammad, mas Hari dan dibantu pula oleh karyawan-karyawannya. Ketika seorang pelanggannya datang untuk membeli barang dagangan, pelanggan ini melihat keanehan diraut wajah Ibu dan juga tidak terlihat seperti biasa perilakunya. Melihat keanehan tersebut, dia pun melaporkan perihal tersebut kepada Nenek (Ibu dari Ibuku) setelah sampai dipasar, tempat Nenekku bekerja.
Ketika waktu istirahat siang datang, warungpun tutup. Nenekku datang dan langsung menghampiri ibuku yang sedang menangis tersedu-sedu di kursi kasir warungnya. Ibu pun bilang kepada Nenek, bahwa sebenarnya tubuh Ibu sedang sakit. Sebelum pergi periksa ke rumah sakit, Ibu berpesan kepada Nenek, beliau bilang titip Ita.
Malam harinya, saudara-saudara dari Bapak maupun Ibu telah datang menjenguk Ibu dirumah sakit. Memberikan motivasi kepada Nenek dan Bapak terutama Ibu yang sedang berbaring diruangan serba putih itu.
Sore itu, di stasiun tugu Yogyakarta, aku, mas Fadli, dan adikku sedang menunggu kereta senja utama Yogyakarta berangkat menuju Jakarta. Sore tadi kami mendapat kabar bahwa Ibu sakit dan diopname dirumah sakit harapan bunda, kami semua disuruh pulang oleh Bapak. Mba Vivi tidak bisa ikut pulang bersama, karena besok dia ada ujian tengah semester dikampusnya.
Sudah tiga hari ibu meninggal, dirumah kami semua merawat bapak yang tiba-tiba jatuh sakit setelah Ibu meninggal. Dan sudah tiga malam, aku beserta adikku menemani Bapak tidur. Setiap hari aku dan mba Vivi merawat bapak, ketiga mas ku dan kakak harus menjaga warung keluarga. Semalam, aku bermimpi hal yang sama sebelum Ibu meninggal, yaitu gigiku copot. Aku terus berdoa, supaya mimpi itu tidak menjadi kenyataan dan Bapak diberi kesehatan supaya dapat berkumpul lagi dengan kami tentunya dalam kondisi fit.
Hari keempat setelah Ibu meninggal, Bapak harus chek up di rumah sakit pancoran. Ketika subuh menjelang, bapak membangunkanku, beliau meminta tolong untuk digelari sajadah, karena beliau akan menjalankan salat subuh. Siang hari beliau telah siap untuk chek up di rumah sakit pacoran dengan ditemani mas Muhammad dan mas Fadli.
Setelah semua prosesi pemakaman kedua yang kami jalani telah selesai, Kakak bercerita kepada Nenek, dan aku ada disamping nenek. Dia berkata, saat Bapak membangunkan dia di pagi hari pada hari keempat setelah Ibu meninggal, dia sedang bermimpi bertemu Ibu, dan Ibu berpesan kepadanya, Mas hari lah yang jadi wali nikahnya.
Pagi yang cerah, matahari pun masih menyinari alam ini dengan sinar hangatnya. Aku duduk sendiri di dalam kereta fajar utama Yogyakarta menuju Jakarta. Setelah empat bulan yang lalu keluarga kami diberi cobaan olehNya.
Dengan membawa nilai UAS yang memuaskan dan cita-cita yang tinggi. Aku tersenyum menatap luar jendela kereta sambil mendengarkan lagu yang dinyanyikan band favoritku, saat aku masih duduk dikursi SMP dengan judul lagu “yang terbaik bagimu”. Tidak lama kemudian, air mata ini tidak bisa aku bendung lagi dan dengan deras sekali mereka mengalir. Aku rindu kehangatan sinar matahari kedua sosok yang aku hormati itu. Matahariku yang tidak akan pernah padam sinarnya menyinari hangatnya hidup ini. Aku pulang ibu, aku pulang ayah. Aku akan membuat kalian berdua tersenyum bangga disana, pasti.

Lulu Annisa Fatimah, gedong, 21 juni 2008