Syair dan penyair Andalusia
Makalah ini dipersentasikan pada mata kuliah Tarikh Adab

Disusun Oleh;
Siti Nur Jannah
Lulu Annisa Fatimah

Dosen;
Cahya Buana, M.A

PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA ARAB
FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1432 H/ 2010 M

PENDAHULUAN

Ada beberapa aspek penunjang yang banyak mempengaruhi kemajuan sastra Andalusia. Pertama, keindahan Alam raya Andalusia, cuaca dan udaranya yang sejuk, tanah serta tamannya yang hijau. Hal ini sangat banyak sekali memberikan pengaruh terhadap peradaban daratan Andalusia. Peradaban serta alam yang demikian sangat banyak sekali pengaruhnya terhadap sastra Arab di Andalusia, maka terjadilah perubahan corak sastra yang mana sebelumnya menampilkan sifat-sifat padang pasir yang panas dan keras menjadi sastra yang lembut, penuh dengan ungkapan-ungkapan alam mereka. Kedua, adanya rasa persaingan dengan timur. Rasa bersaing demikian yang membuat perkembangan pesat di dalam sastra Andalusia sehingga dapat mempengaruhi keproduktifan penulis-penulis Andalusia, juga pesatnya karya-karya sastra. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa di Andalusia ketika itu terdapat tujuh puluh perpustakaan, terdiri dari empat ratus ribu buku. Banyak diantara ulama Andalusia yang pergi ke timur untuk menimba ilmu dan mencari buku, dan sebaliknya ulama timur datang ke Andalusia untuk mencari tempat dan penghargaan dari kholifah.

PEMBAHASAN
A. Syair Andalusia
Karya sastra sebagai cermin kehidupan, dalam tema dan idenya sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan penyairnya. Baik lingkungan alam, ekonomi dan politik. Begitu juga dengan sya’ir-sya’ir Arab Andalusia. Karena panjangnya rentang waktu keberadaan Islam di Andalusia, karya-karya sastranya dibagi berdasarkan perkembangan politik:
1. Periode yang dimulai dengan kemenangan Islam tahun 93 H / 712 M dan berakhir dengan berdirinya daulah bani umayyah di Andalusia dibawah kekuasaan Abdurrahman Ad-Dakhil tahun 138 H / 755 M.
2. Periode pembentukan pemerintahan dimulai dari berkuasanya daulah umayyah di andalusia dibawah pemerintahan Abdurrahman Ad-Dakhil dan keturunannya sampai tahun 238 H / 852 M.
3. Periode konflik pemerintahan mulai sejak berkuasanya Abdurrahman Ausath dan dan keturunannya berakhir pada tahun 316 H / 929 M.
4. Periode Khilafah atau Masa keemasan Islam di Andalusia di bawah kekuasaan Khalifah An-Nashir Lidinillah (Abdurrahman III) berakhir pada tahun 366 H / 976 M.
5. Periode kemunduran yang berakhir pada tahun 399 H / 1009 M.
Macam-macam tujuan syair andalusia:
1. Madh (Pujian)
Syair ini bertujuan untuk mengungkapkan rasa senang dan cinta terhadap orang yang pernah berjasa atau orang yang sangat dihormati dan juga merupakan sarana untuk mencari kehidupan. Penyair Andalusia merupakan generasi dari penyair timur. Penyair ini tetap memelihara dengan baik gaya bahasa yang terdahulu dan ditujukan untuk kerajaan. Penyair Madh yang paling terkenal di Andalusia yaitu, Ibnu Hani, Ibnu Darraj, Ibnu Zaidun, Ibnu Syahid, dan Lisanuddin bin Al-Khotib. Contoh syair di bawah ini mengikuti style Mutanabbi, yang ditujukan untuk memuji Khalifah, sebagaimana perkataan al-Mu’iz liddinillah al-Fatimi:
ما شئت لا ما شاءت الأقدار فاحكم فأن الواحد القهار
هذا الذي ترجى النجاة بحبه وبه يحـط الأصر والأوزار
فكـأنمـا أنت الـنبي محمد وكأنما أنصارك الأنـصار

Aku tidak memiliki kekuasaan apapun, sedangkan ia memiliki kekuasaan
Tetapkanlah keputusan, sesungguhnya Ia Maha Esa lagi Maha Perkasa
Inilah keselamatan yang diharapkan dengan cintanya
Dengannya turun jaminan dan perlindungan
Seakan-akan engkau Mabi Muhammad
Dan seakan-akan penolongm adalah Kaum Anshor

2. Risa’(Ratapan / elegi)
Kesedihan dengan jatuhnya kota-kota Andalusia, menimbulkan kreasi-kreasi elegi sebagai ekspresi kesedihan sekaligus penyadaran masyarakat agar bersatu merebut kembali harta mereka. Penyair yang terkenal dengan tujuan syair ini yaitu Ibnu ‘abd Rabbihi, Ibnu Hani’, Ibnu zaidun. Sebagaimana yang dilakukan oleh seorang fakih yang juga penyair Abdullah bin Farag al-Yahshuby yang dikenal dengan sebutan Ibnu al-Ghassâl, yang terpaksa mengungsi ke Granada saat jatuhnya kota Toledo tahun 1094 M yang keruntuhannya diibaratkan dengan pakaian yang carut marut, dia berkata:
فمـا المقام بهـا إلا من الغـلط يا أهل أندلس شدوا رحالكم
سلك الجزيرة منسولا من الوسط السلك ينسل من أطرافه وأرى
كيف الحياة مع الحيات في سفط من جاور الشر لا يأمن عواقبه
“Wahai penduduk Andalus, tunggangilah kuda-kudamu
Karena menetap di Toledo adalah kesalahan
Pakaian akan ditanggalkan dari ujung-ujungnya
Dan aku melihat pakaian Andalus tertanggalkan dari pusatnya
Barang siapa yang meng-akrabi kejahatan tidak akan lepas dari akibatnya
Bagaimana manusia bisa hidup dengan ular-ular dalam satu kantong?”

3. Hija’ (Ejekan)
penyair Andalusia jika mengejek mereka tidak terlalu memperpanjang dan cenderung untuk bersikap toleransi, memaafkan dan tidak sampai melampaui batas dalam ejekannya. Penyair yang terkenal dengan tujuan syair ini adalah Ibnu hani’, Ibnu Khufajah, Abu bakar al-makhzumi, Ibnu jubair. Ibnu Jubair al-Andalusi berkata:
فداؤك نفسي كيف تلك المعالم فيا راكب الوجناء هل أنت عالم
“Wahai penunggang unta yang galak, apakah kamu tahu tebusanmu adalah diriku bagaimana petunjuk jalan itu?”
4. Ghazal (Rayuan)
Syair ini banyak beredar di andalusia, bahkan pola syairnya lebih umum dan luas, penduduk andalusia lebih terkenal dengan kelembutan dan kecendrungannya. Beberapa syair ini suci nan indah, dan menggambarkan pencitraan perempuan dan deskripsi dari pesonanya. Syair ini mencerminkan kepribadian penyair. Penyair yang terkenal dengan tujuan syair ini yaitu yahya bin hakam, ibnu zaidun, abu amir bin syahid, ibnu ‘abd rabbihi. Ibnu ‘abd rabbihi berkata:
ورشأ بتقطيع القلوب رفيقا يا لؤلؤا يسبي العقول أنيقا
“Duhai intan mutiara yang elok nan menawan hati
Serta nan lemah lembut untuk mengambil hati yang halus”
5. Asketisme – Sufisme
Syair-syair sufi untuk mengekspresikan cinta kepada Allah , beberapa penyair Andalusia membimbing orang untuk berzuhud, selain apa yang telah terjadi kepada orang-orang Andalusia dari kemalangan di negara mereka sendiri yang telah membuat mereka cenderung untuk bersikap protes dan berzuhud, menjauhi dosa, meninggalkan segala hal yang berbau duniawi dan untuk mengendalikan diri. Penyair yang terkenal dengan tujuan syair ini ibnu arabi, ibnu hani’. Ibn ‘Arabi mengemukakannya lewat syairnya:
يا ليت شعوري من المكلف العبد رب والرب عبـد
أو قـلت رب أنّى يـكلف إن قلت عبد فذاك رب

“ Hamba adalah Tuhan dan Tuhan adalah hamba
Demi syu’ur ku, siapakah yang mukallaf?
Jika engkau katakan hamba, padahal dia Tuhan juga.
Atau engkau katakan Tuhan, lalu siapa yang dibebani taklif?”

6. Syair alam dan diskripsi
Andalusia unggul dalam bidang deskripsi dan penggambaran alam di atas penyair Timur, dan membawa keindahan yang abadi. puisi alam adalah jenis puisi yang berkaitan dengan penyair alam yang dituangkan melalui pendeskripsian dan penggambaran. Penyair yang terkenal dengan tujuan syair ini yaitu ibnu khufajah ibnu zaidun. Seperti syair Ibnu Khufajah menyifati sungai:
أحلى ورودا من لمى الحسناء لله نهـر سـال فى بطحاء
والزهر يـكنفه مجر سمـاء متعطف مثل السوار كأنه
“Demi Allah, alangkah indahnya sungai yang mengalir di Lembah Bath-ha itu
Airnya lebih manis daripada tahi lalat si cantik jelita
Sungai itu berbelok-belok bagaikan gelang
Dan bunga yang menghiasinya bagaikan gugusan bima sakti”

7. Kerinduan
penyair timur mereka lebih suka mengarah pada puisi nostalgia, di Andalusia mengikuti penyair timur, dan diterapkan dalam seni ini, Dan mengacu pada dua hal:
a. Penduduk Andalusia pergi ke Arab Timur untuk mencari ilmu pengetahuan.
b. Sebagian besar penyair Andalusia membuat syair dengan hati dan makna yang paling penting dari puisi seputar keterasingan mereka, kerinduan pada tanah air, pengalaman di negeri asing, dan menggambarkan masa kecil.
Seperti penyair Ibnu zaidun membuat syair untuk seorang gadis bernama Wiladah dan tentang pengalaman bercinta dengannya tetapi kemudian terhalang oleh keberadaannya di penjara, membuat syair romantisnya sangat indah, lahir dari jiwa yang jernih, rasa yang tajam dan kerinduan yang menggelora. Dalam salah satu syairnya yang melimpahkan emosi kerinduan pada Wiladah:
والأفق طلق ووجه الأرض قد راقا إني ذكرتك بالزهراء مشتق
“Aku merindukanmu disaat bunga-bunga mekar
Disaat ufuk terang dan wajah bumi memikat”
8. Syair ta’limi
Hubungan syair nadzam ini dengan syair yang lain terbatas pada wazan dan qafiyah. Andalusia juga memberikan kontribusi pada pola ilmu pengetahuan, dan khususnya yang berkaitan dengan sejarah dan nadzam ilmu-ilmu seperti ilmu nahwu karya alfiyah ibnu malik dan alfiyah ibnu al-khathib yang membahas ilmu fiqh. Seperti Nadzam Alfiyah Ibnu Malik:
ومسند للإسم تميز حصل بالجر والتنوين والندا وأل
“Ciri ma’rifat itu dengan jar, tanwin, nida’, al ma’rifah, musnad, dan isim”

Pada awal kekuasaan Islam di Andalusia, bentuk sya’irnya masih mengikuti style sya’ir Arab di Jazirah Arab dan penyairnya pun masih penyair rantau. Kemudian berkembang dari segi tema, style, dan struktur sya’ir. Style sya’ir Arab Andalusia terkenal dengan kelembutan dan kehalusan dalam pemilihan diksi, dan gaya bahasa terutama dalam tasybih (perumpamaan) dan majaz isti’arah (personifikasi).
Di masa ini pula lahir satu bentuk puisi yang oleh ahli sastra dipandang juga sebagai benih lahirnya puisi Arab bebas, yaitu al-muwasysyah. Bentuk puisi ini cukup popuper di Andalusia pada abad III H. Meskipun jenis puisi ini kemudian juga menyebar ke dunia Timur, orang-orang Andalusia dalam hal kreasi al-muwasysyah ini lebih unggul dari pada orang-orang Timur.
Secara etimologis, al-muwasysyah merupakan derivasi dari kata al-wusyah yang berarti sebuah kalung dari permata dan mutiara yang masing-masing dirangkai dan dihubungkan sedemikian rupa serta dipakai kalung oleh wanita. Ungkapan ‘saubun muwasysyahun’ berarti baju yang dibordir dan dihias. Secara terminologis, al-muwasysyah memiliki banyak definisi. Salah satunya adalah yang dinyatakan oleh Ibnu Sina’ al Malik al Misry dalam bukunya Dar al-Tiraz. Menurutnya, al-muwasysyah adalah ungkapan yang berwazan, metrik tertentu dengan qafiyah, rima yang berlainan; paling banyak terdiri dari enam qafl dan lima larik yang selanjutnya disebut al-muwasysyah al taam dan minimal terdiri dari lima qafl dan lima larik yang kemudian disebut al-muwasysyah al aqra’. Yang pertama diawali dengan qafl dan yang kedua dimulai dengan bait, larik.
Bentuk al-muwasysyah sendiri cukup beragam, tetapi yang paling populer adalah penyair menulis dua larik yang masing-masing sadrnya berima sama dan masing-masing ‘ajznya juga memiliki rima lain yang sama. Dua larik itu lalu dikuti oleh tiga larik yang masing-masing sadrnya sama dan masing-masing ‘ajznya juga berima sama. Kemudian diikuti dua larik yang kedua sadr dan ‘ajznya mempunyai rima yang sama dengan awal al-muwasysyah. Selanjutnya penyair menulis lima larik lain yang susunannya sama. Bentuk lain al-muwasysyah adalah penyair menulis satu larik yang sadr dan ‘ajznya berima sama, lalu tiga syatr dengan satu rima yang berlainan dengan larik, kemudian dua syatr yang rimanya sama dengan larik pertama, dan seterusnya.
Muwasysyah muncul karena corak kehidupan masyarakat Andalusia yang sarat kemewahan, kesenangan, dan hiburan. Al-Muwasysyah merupakan bentuk ekspresi yang sesuai dengan kecenderungan itu. Bentuk ini merupakan satu pembaharuan dalam tipografi puisi Arab, bukan dalam isinya.
Penyair pertama yang meretas jenis puisi ini menurut Ibnu Khaldun adalah Miqdam bin al Mu’afy al Qubry dan diikuti oleh Abu Umar Ashmad bin Abd Rabbah, pengarang buku al ‘Iqd. Sedangkan yang berhasil mempopulerkan al-muwasysyah ke seluruh Andalusia adalah Ibadah bin Ma’ al-Sama’ (w. 422 H). Sepeninggalnya muncul beberapa penyair al-muwasysyah Andalusia, antara lain yang populer adalah : Yahya bin Baqqy, Abu Bakar bin zahr, Ibnu Sahl, dan Lisan al Din bin al Khatib.
Sebagai sebuah pembaharuan dalam bentuk atau tipografi dan bukan dalam isi maka tema-tema yang diusung al-muwasysyah tetap berkisar pada masalah-masalah seperti cinta, khamer, dan pemerian alam. Setelah itu baru masuk pada tema-tema madah (eulogi), hija’ (satire), dan risa (elegi). Terkadang sebuah al-muwasysyah memuat lebih dari satu tema. Ahli Tasawuf di masa kemunduran Islam bahkan pernah menjadikannya sebagai media untuk menyampaikan gagasan dan pemikirannya yang sarat nasehan dan pujian agama.
Biasanya, al-muwasysyah terdiri dari beberapa bagian, yaitu :
1. Al-Matla’ atau al-mazhab, yaitu pembuka al-muwasysyah. Matla’ ini disebut qafl pertama. Apabila qafl pertama ada maka disebut al-muwasysyah al-taam dan bila tidak ada maka disebut al-muwasysyah al-aqra’.
2. Al Qafl, yaitu bagian al-muwasysyah yang rimanya berulang enam kali dalam al-muwasysyah al-taam atau lima kali dalam al-muwasysyah al-aqra’. Qafl-qafl itu memiliki satu rima dalam keseluruhan al-muwasysyah. Qafl terakhir disebut al-kharjah.
3. Al Daur, yaitu bagian yang terletak setelah al-matla’ dalam al-muwasysyah al-taam. Dalam al-muwasysyah al-aqra,’ al-daur ini terletak di permulaan al-muwasysyah. Daur ini berulang-ulang setelah setiap qafl. Ia terdiri dari tiga bagian dan hanya sedikit yang lebih dari lima.
4. Al Bait, yaitu daur itu sendiri atau daur dengan qafl yang mengiringinya.
5. Al Kharjah, yaitu qafl terakhir. Metrik (wazan), rima (qafiyah), dan jumlah bagian al-kharjah sama dengan matla’ dan qafl. Dalam kharjah dimungkinkan adanya dialek, kata asing, atau ungkapan tidak baku “ammy,” dan terkadang melalui perantaraan bahasa hewan.
6. Al Samt, yaitu satu istilah untuk menyebut setiap syatr dalam daur. Paling sedikit jumlah al samt dalam satu daur itu tiga. Terkadang samt ini terdiri dari satu, dua, tiga, atau empat fiqrah. Setiap fiqrah memiliki satu rima yang diulang-ulang dalam samt-samt sebuah daur akan tetapi dalam setiap daurnya, rima itu berlainan. Kata “qultu,” “qalat,” “Gana,” dan “Syada” seringkali terdapat pada bagian terakhir al samt yang mempunyai kharjah.
7. Al Gusn, yaitu sebutan untuk setiap syatr matla’, qafl, atau kharjah dalam al muwasysyah. Jumlah al gusn dalam matla,’ qafl, dan kharjah harus sama.
المثال: من موشحة لأبي الحسن علي بن مهلل الجلياني: يصف فيها الطبيعة.
(( المطلع ))
على قدود الغصون النهر سل حساما
(( الدور ))
وللنسيم مجال
والروض فيه اختيال
مدت عليه ظلال
(( القفل ))
وجدا بتلك اللحون والزهر شق كماما
(( الدور ))
أما ترى الطير صاحا
والصبح في الأفق لاحا
والزهر في الروض فاحا
(( القفل ))
تبكي بدمع هتون والبرق ساق الغماما
Sungai menghunus pedangnya yang tajam di atas dahan yang tinggi
Untuk memecah air
Dan Taman yang dihiasi tumbuh-tumbuhan
Bayangan yang dibentangkan
Dan bunga membelah kelopak bunga, marah dengan perkataan itu
Andai kau lihat burung muncul
Dan subuh terbit di cakrawala
Dan bunga menyerbakkan bau harumnya di Taman
Kilat menyingkapkan awan, kau menangis dengan terus menerus meneteskan air mata

B. Penyair Andalusia
1. Ibnu zaidun (394-463 H/1003-1071 M)
Nama lengkapnya adalah Ahmad bin abdullah bin ahmad bin ghalib bin zaidun al-makhzumi dan lahir di cordoba. Ibnu Zaidun diangkat oleh penguasa pemerintahan Islam di Spanyol, Al-Mutadhid Al-Abbadi sebagai pejabat. Ibnu zaidun adalah penulis dan penyair yang dinamakan dengan, “Buhturi di Barat”, di mana gaya bahasa beliau termasyhur dengan kelembutan, indah didengar dan perumpamaan yang indah. Ibnu Zaidun dianggap sebagai penyair terbesar Andalusia. Ia berasal dari keluarga bangsawan Makhzum, salah satu keturunan Quraisy. Ia tak hanya memiliki kemampuan dalam menggerakkan pena. Ia pun memiliki kekuasaan pedang, karena ibnu zaidun juga menjabat sebagai komandan pasukan. Ibnu zaidun bergelar dzu al-wizaratain atau penguasa dua kementerian. Ibnu Zaidun terkenal dengan tujuan syair madh, ritsa’, hanin, alam.
والأفق طلق ووجه الأرض قد راقا إني ذكرتك بالزهراء مشتق
“Aku merindukanmu disaat bunga-bunga mekar
Disaat ufuk terang dan wajah bumi memikat”

2. Ibnu khufajah (450-533 H/1058-1138 M)
Abu ishaq ibrahim bin abi al-fath bin khufajah, Ia menghabiskan waktunya di sebuah desa kecil sebelah selatan Valensia dan memutuskan untuk tetap berada di keterasingan. Ia tak tertarik mendekati para pejabat istana. Ibun khufajah terkenal dengan syair deskripsi, alam, madh.
أحلى ورودا من لمى الحسناء لله نهـر سـال فى بطحاء
والزهر يـكنفه مجر سمـاء متعطف مثل السوار كأنه
“Demi Allah, alangkah indahnya sungai yang mengalir di Lembah Bath-ha itu
Airnya lebih manis daripada tahi lalat si cantik jelita
Sungai itu berbelok-belok bagaikan gelang
Dan bunga yang menghiasinya bagaikan gugusan bima sakti”

3. Ibnu Malik (1204 – 1274 Masehi)
Abu Abdillah Muhammad Jamaluddin bin Abdillah bin Malik al-Andalusia, pakar bahasa yang termasyhur berasal dari Andalusia, spanyol yang bermadzhab Maliki.. Beliau pernah menjadi pakar rujukan di dalam ilmu qiraat dan nahwu. Beliau telah menyusun beberapa antologi syair di mana yang termasyhurnya ialah antologi yang terkenal dengan nama “Alfiah bin Malik”. Antologi tersebut memuatkan sebanyak seribu bait ringkasan kaedah bahasa Arab.
ومسند للإسم تميز حصل بالجر والتنوين والندا وأل
“Ciri ma’rifat itu dengan jer, tanwin, nida’, al ma’rifah, musnad, dan isim”

4. Ibn Abd Rabbihi (246-326 H / 860-940 M)
Nama lengkapnya adalah abu umar ahmad bin Muhammad bin abd rabbihi, Ia berasal dari Kordoba. Dengan kemahiran yang dimiliki di bidang sastra, ia menjadi penyair kesayangan Khalifah Abd al-Rahman III. Semula, Rabbihi merupakan seorang budak. Ia dibebaskan oleh Khalifah Hisyam I.Selain sebagai penyair kesayangan khalifah, Rabbihi berhasil menuliskan buku yang juga melambungkan namanya. Judul bukunya, at-Iqd al-Farid atau kalung antik. Buku ini berisi tentang gubahan-gubahan syair yang menggugah hati. Buku ini pun menjadi buah bibir di kalangan para cendekia. selain sastra Rabbihi juga menulis tentang sekretaris. Dalam buku itu, Rabbihi menuliskan tentang jenis-jenis jabatan sekretaris yang berkembang pada masa ia hidup. Jabatan tersebut, banyak dipegang oleh mereka yang menguasai bidang bahasa. Rabbihi menulis juga tentang soal politik, pemerintahan, militer, dakwah, etika, biografi, anekdot, maupun hadis. Adapun kriteria syairnya yakni ghazal, madh.
ورشأ بتقطيع القلوب رفيقا يا لؤلؤا يسبي العقول أنيقا
“Duhai intan mutiara yang elok nan menawan hati
Serta nan lemah lembut untuk mengambil hati yang halus”

5. Ibnu Arabi (560-638 H/ 1165-1246 M)
Muhyiddin Muhammad ibn Ali ibn Muhammad ibn al-Arabi al-Hatimi ath-Tha’i al-Andalusi, yang dilahirkan pada tanggal 27 Ramadhan 560 H atau 7 Agustus 1165 M di Murcle, Andalusia, Spanyol. Ibnu Arabi wafat pada tanggal 28 Rabi’utsani 638 H atau 16 November 1246 M. Pada tahun 578 H, Ibnu Arabi mulai belajar agama dengan usia yang masih muda. Beliau mempelajari al-Qur’an di bawah bimbingan Ibn Safi al-Lakhimi (meninggal 589/1189) yang mengajarkan haditsnya. Selama menetap di Seville, Ibn al-Arabi dengan memanfaatkan perjalanannya untuk mengunjungi para sufi dan sarjana terkemuka. Salah satu kunjungannya yang sangat mengesankan ialah ketika berjumpa dengan Ibn Rusyd (w. 595 / 1198) di Cordova. Percakapannya dengan filsuf besar ini membuktikan kecermelangannya yang luar biasa dalam wawasan spiritual dan intelektual dan syairnya banyak bertujuan asketisme.
يا ليت شعوري من المكلف العبد رب والرب عبـد
أو قـلت رب أنّى يـكلف إن قلت عبد فذاك رب

“ Hamba adalah Tuhan dan Tuhan adalah hamba
Demi syu’ur ku, siapakah yang mukallaf?
Jika engkau katakan hamba, padahal dia Tuhan juga.
Atau engkau katakan Tuhan, lalu siapa yang dibebani taklif?”

Penyair tersohor kalangan wanita yaitu Ayesah , Hasana al-Tamimiyah, Umm al-Ula, Al-walladah (seorang wanita berbakat), al-Aruziyah wanita yang mahir dalam bidang retorika, Maria (dari Seville, salah satu guru wanita pada masa ini, ia mengajarkan ilmu retorika, syair dan kesusastraan), Hafsah binti al-Hajj (selain terkenal sebagai wanita cantik, ia berbakat dalam berbagai bidang dan hidupnya kaya raya).

KESIMPULAN
Karya sastra sebagai cermin jernih kehidupan, dalam tema dan idenya sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan penyairnya. Baik lingkungan alam, ekonomi dan politik. Di segi tema, sya’irnya berkembang berdasarkan gejolak politik, pesona alam (perbedaan alam Andalusia dan Arab yang sangat kontras melahirkan kekaguman yang luar biasa bagi penyairnya).
Style sya’ir Arab Andalusia terkenal dengan kelembutan dan kehalusan dalam pemilihan diksi, dan gaya bahasa terutama dalam tasybih (perumpamaan) dan majaz isti’arah (personifikasi). Dalam struktur, sya’ir Andalusia biasa mengunakan bahasa pengantar. Dan penyair masa ini menciptakan corak baru bernama Tausyih atau muwasysyah. Tausyih biasanya terdiri dari beberapa bagian, tiap bagian terdiri dari 5 bait. Bait pertama sampai ketiga dalam setiap bagian mempunyai rima atau qafiyah berbeda, sedangkan bait keempat dan kelima mempunyai rima yang sama pada semua bagian. Berbeda dengan susunan syair Arab biasa yang terikat dengan Prosodi dan rima yang sama.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Maki, Ath-Thahir, Dirasat andalusiah fi al-adab wa at-tarikh wa falsafah, Libanon: Darul Ma’arif, 1987
Ali, Sejarah Islam (Tarikh Pramodern), Jakarta: PT Rajagrafindo persada, 1997
Al-mujiz fi al-adab al-araby wa tarikhuh, Libanon: Darul Ma’arif, 1962
Ar-Rubayyi’, Muhammad bin Abdurrahman, Al-adab al-‘arabi wa tarikhuhu jilid 2, Riyadh: Jami’ah al-Imam Muhammad bin Su’ud al-Islamiah, 1422 H
al-Tunjy, Muhammad, al-Mu’jam al-Mufassal fi al-Adab I & II, Beirut:Dar al Kutub al ‘Ilmiyah, 1993
Dawud, anis, al-Tajdid fi Syi’r al-Mahjar, Mesir: Dar al Katib al ‘Araby li al Tiba’ah wa al Nasyr, 1967
Haikal, Ahmad, Dirasat adabiah, Libanon: Darul Ma’arif, 1980

http://www.averroes.or.id/thought/pengaruh-sastra-arab-terhadap-andalusia-dan-barat.html

Lubis, Nabilah, Almu’in fi al-adab al-‘arabi wa tarikhihi, Jakarta: FAH UIN, 2005
Usman, Ahmad & Cahya Buana, Al-adab arabi fil’ashil al-‘abasi wa al-andalusi wa ‘ashri al-inhithath, Jakarta: kulliyatul adab wa ‘ulum al-insaniah, 2010
Wahba, Majdy & Kamil Muhandis, Mu’jam al Mustalah fi al Lugah wa al Adab, Libanon: Maktabah Lubnan, 1984